AUTOBIOGRAFI BAGAS
Nama :Bagas putra pratama
Tg lahir :20,07,2007
Hobi :Hunting bus
Kelompok:02
Cita cita :masinis
Persahabatan Sejati
Saat ini aku berada di
kelas 3 SMP, setiap hari kujalani bersama dengan ketiga sahabatku yaitu Aris,
Andri, dan Ana. Kita berempat sudah bersahabat sejak kecil.
Suatu saat kami
menulis surat perjanjian persahabatan di sobekan kertas yang dimasukkan ke
dalam sebuah botol, kemudian botol tersebut dikubur di bawah pohon yang
nantinya surat tersebut akan kami buka saat kami menerima hasil ujian
kelulusan.
Hari yang kami
berempat tunggu akhirnya tiba, kami pun menerima hasil ujian dan hasilnya kita
berempat lulus semua.
Kami serentak langsung
pergi berlari ke bawah pohon yang pernah kami datangi dan menggali tepat di mana
botol yang dahulu dikubur berada.
Kemudian, kami
berempat membuka botol tersebut dan membaca tulisan yang dulu pernah kami
tulis. Kertas tersebut bertuliskan “Kami berjanji
akan selalu bersama untuk selamanya.”
Keesokan hari, aris
berencana untuk merayakan kelulusan kami berempat. Malamnya kami berempat pergi
bersama ke suatu tempat dan di situlah saat-saat yang tidak bisa aku lupakan
karena aris berencana untuk menyatakan perasannya kepadaku. Akhirnya aku dan
anis berpacaran.
Begitu juga dengan
Andri, dia pun berpacaran dengan Ana. Malam itu sungguh malam yang istimewa
untuk kami berempat. Kami pun bergegas untuk pulang.
Ketika perjalanan
pulang, entah mengapa perasaanku tidak enak.
“Perasaanku ngga enak banget ya?”
Ucapku penuh cemas.
“Udahlah ndi, santai aja, kita ngga bakalan
kenapa-kenapa” jawab andri dengan santai.
Tidak lama setelah
itu, hal yang dikhawatirkan Nindi terjadi.
“Arissss awasss! di
depan ada juang!” Teriak Nindi.
“Aaaaaaaaaa!!!”
Bruuukkk. Mobil yang
kami kendarai masuk ke dalam jurang. Aku tak kuasa menahan air mata yang terus
mengalir sampai aku tidak sadarkan diri.
Perlahan aku buka
mataku sedikit demi sedikit dan aku melihat ibu berada di sampingku.
“Nindi.. kamu sudah
sadar, Nak?” Tanya ibuku.
“Ibu.. aku di mana? Di
mana Ana, Andri, dan Aris?” tanyaku.
“Kamu di rumah sakit
Nak, kamu yang sabar ya, Andri dan aris tidak tertolong di lokasi kecelakaan”
Jawab ibu sambil menitikkan air mata.
Aku terdiam mendengar
ucapan ibu dan air mataku menetes, tangisku tiada henti mendengar pernyataan
ibu.
“Aris, mengapa kamu
tinggalkan aku, padahal aku sayang banget ke kamu, aku cinta kamu, tapi
kamu ninggalin aku begitu cepat, semua pergi ninggalin aku.”
batinku berkata.
Lantas, 2 hari berlalu
dan aku berkunjung ke makam mereka, aku berharap kami bisa menghabiskan waktu
bersama sampai tua. Tetapi sekarang semua itu hanya angan-angan. Aku berjanji
akan selalu mengenang kalian.


Komentar
Posting Komentar